Jumat, 21 Mei 2010

Dibalik Kesulitan Ada Pertolongan Allah SWT

Oleh : Ust Yusuf Mansyur
Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan Allah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Kemurahan Allah. Dan bila kitab sepakat, insya Allah bahkan kesulitan itulah anugerah Allah buat kita semua. Perjalanan waktu akan membuktikan itu. Andai kita lalui semua ragam kesulitan itu bersama Allah.

Saya termasuk yang percaya sedari awal, bahwa kalau kita mau berpikir tentang Kemurahan Allah, maka bener-bener Allah itu Maha Pemurah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan-Nya dan Kemurahan-Nya.

Sedikit berbagi. Ketika saya berada di pusaran kesulitan, Allah menganugerahkan saya kemampuan untuk menggoretkan ceritera kesulitan itu. Subhaanallaah, ia kemudian menjadi salah satu cahya bagi
kehidupan saya. Saya akhirnya bisa menulis, dan tulisan itu pun akhirnya menjadi buku. Terbit dengan judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang. Agaknya, andai saya tidak mengalami kesusahan hidup, niscaya buku ini tidak lahir. Ketika itu saya merasa putus asa. Saya butuh teman. Akhirnya saya ambil pena dan kertas. Benar-benar pena dan kertas. Oldies banget.

Sebab emang ga ada fasilitas. Saat itu saya terpenjara dengan sel dunia. Ruang seukuran kurang lebih 2x3 menjadi kamar saya yang bagus untuk banyak merenung dan menulis hasil perenungan. Semula ia sebagai kawan saya. Akhirnya ia menjadi kawan banyak orang setelah jadi sebuah buku. Kebiasaan menulis ini di kemudian hari yang mengantarkan saya menulis buku-buku yang lainnya

Saudaraku, Anda semua bisa memulai menjadi nasab yang baik bagi keturunan Anda semua. Supaya mengalir segala kebaikan saudara ke anak keturunan dan keluarga Saudara. Genjot saja kebaikankebaikan, dan titi jalannya Allah. Insya Allah anak keturunan saudara semua akan hidup mulia. Saya beri contoh lain, kekuatan dorongan kebaikan dari kebaikannya orang lain. Misalkan, ada anakanak yatim mengaji. Dan mengaji ini kan satu kebaikan. Tapi anak-anak yatim ini mengaji sebab dikumpulkan oleh istri Saudara. Istri saudara mengumpulkan anak-anak yatim ini untuk mendoakan
saudara, sementara saudara terbaring lemah di rumah sakit ga ada tanda-tanda kehidupan.
Subhaanallaah, ketika anak-anak yatim ini menengadahkan tangannya ke atas, untuk berdoa, bisa saja Allah segera memberikan signal kehidupan bagi suami orang ini. Apalagi misalnya, ada anak yatim yang keturunan seorang yang saleh, walo miskin. Lalu orang saleh ini berdoa kepada Allah Tuhannya, ya Allah, sayangilah yang menyayangi anak saya sepeninggal saya. Weh, yang kayak begini ini nih
yang masya Allah, bisa mengundang rahmat Allah yang bisa menggugurkan dosa-dosa kita semua.
Dan bukan tidak mungkin, perbuatan semacam istri ini, bila dilakukan sepenuh hati, sesering mungkin, dan meyakini bahwa Allah Maha Mendengar doa, insya Allah, si suami tersebut Allah berikan karunia kesembuhan total. Allah Maha Memiliki Keajaiban.




Seorang pengurus masjid berdiri di depan ratusan orang yang akan shalat Jum’at. Di tangannya memegang lembaran-lembaran berisi catatan-catatan pengumumam. Salah satunya pengumuman sedekah orang. Kemudian dia mengumumkan, “Ada permohonan doa, dari Fulan bin Fulan yang
bersedekah sekian sekian. Mari kita bacakan al Faatihah sebagai doa bagi beliau. Mudah-mudahan segala hajatnya dikabul Allah, masalahnya ditolong Allah… al Faatihah…”. Wah, saya yakin, hal ini
mesti ada pengaruhnya kepada orang yang didoakan itu. Apalagi semua jamaah yang mendoakan itu adalah sekumpulan orang-orang yang akan melaksanakan perintah Allah: Shalat Jum’at. Energinya
besar sekali sebagai faktor pendorong turunnya Rahmat dan Kemurahan Allah.

Misalkan ternyata, saudara sendiri ga tahu menahu bahwa ada sekumpulan orang yang shalat Jum’at mendoakan saudara. Sebab yang memberikan sedekah itu bukan saudara, dan yang meminta doa untuk saudara adalah orang lain, maka ini pun sama saja. Tetap nyampe itu energi kebaikannya kepada saudara. Masya Allah kan? Jadi, ga usah kuatir juga bila saudara banyak melakukan keburukan, lalu saudara jadi putus asa. Yang penting sekarang mah, banyakin taubat, perbaiki shalat-shalat wajib, hidupkan ibadah-ibadah sunnah; qabliyah ba’diyah, dhuha, tahajjud, witr, baca al Qur’an, perbanyak istighfar dan sedekah. Dan kemudian pergunakan juga banyak kesempatan untuk berdoa. Waba’du, memang biar gimana, peran keluarga dan orang-orang tua penting, dan teramat penting. Pada akhirnya, semua hal berkumpul menjadi satu penentu juga yang bisa mengundang Kemurahan Allah turun.
***
Tulisan kali ini, agak masih ga ketemu “feel”nya ya? Ya, mhn maaf. Habis keganggu terus. Baru nulis sebait, udah dipanggil urusan pondok. Nerusin sebait lagi, udah ada tamu. Nulis lagi, urusan anak2, he he he. Nulis lagi, eh ada tausiyah yang saya harus
segera menyudahi menulis. Yah, saya nikmati saja. Walo akhirnya banyak hambatannya ke penaikan ke KuliahOnline nya. Tapi disebut ga dapat feel nya, ga juga. Kita kan lagi bicara Kemurahan Allah. Kadang kita menganggap Kemurahan Allah itu adalah hal-hal berupa “anugerah kebaikan” saja. Kalau keburukan, bukanlah kemurahan Allah. Padahal tidak setiap keburukan itu (baca: kejadian-kejadian buruk)
“Walanudziiqannahum minal ‘adzaabil adnaa duunal ‘adzaabil akbari la’allahum yarji’uun, dan Kami timpakan sebagian keburukan dari keburukan-keburukan yang dilakukan manusia, adalah agar manusia kembali”. (Qs. az Zumar: 21).

Para Peserta yang dimuliakan Allah, sebisa mungkin, petik saja hikmah-hikmah yang terkandung ya. Jangan cerewet, he he he. Betapapun, saya berdoa dulu loh setiap memulai penulisan ini. Agar ia menjadi berkah buat Saudara-saudara semua. (Berdoa koq ya bilang-bilang ya? He he he). Ga apaapalah ya? Saudara semua insya Allah saya anggap bahagian dari kehidupan saya sendiri. Insya Allah.